Selasa, 16 Maret 2010

Transmigrasi

Masalah transmigrasi

pada hakekatnya dapat dilihat dari dua  sudut penglihatan. Pertama dari sudut penglihatan masalah penjebaran penduduk dan kedua dari sudut penglihatan pemenuhan kebutuhan tenaga kerdja untuk pembangunan.
Dipandang dari segi masalah penjebaran penduduk maka tujuan transmigrasi adalah untuk mencapai pensebaran penduduk jang lebih seimbang dan lebih merata diseluruh wilajah Indonesia. Padangan ini membawa konsekwensi bahwa bagian yang tidak kecil dari penduduk Djawa harus dapat dipindahkan kepulau-pulau lain yang dewasa ini kekurangan penduduk.
Dipandang dari sudut penglihatan kebutuhan tenaga kerdja maka transmigrasi adalah pemindahan tenaga kerja untuk melaksanakan pembangunan berbagai projek-projek didaerah-daerah jang kekurangan tenaga kerja. Tujuan utama bukanlah untuk mencapai penyebaran penduduk yang lebih seimbang dan lebih merata, melainkan untuk melaksanakan pembangunan proyek-proyek yang dipandang perlu untuk peningkatan produksi Nasional.
Pada dasarnja kedua sudut penglihatan tersebut tidak terpisah  satu sama lainnya. Dalam taraf Rencana Pembangunan Lima Tahun      jang pertama ini maka transmigrasi harus dikaitkan dengan pembangunan projek-projek. jumlah tenaga kerdja jang dibutuhkan  dan dengan demikian djumlah biaja jang diperlukan tergantung daripada jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk pembangunan  proyek-proyek yang memerlukan tenaga kerja tersebut. Adapun pembangunan proyek-proyek tersebut bukanlah pertama-tama untuk menampung tenaga kerdja jang dipindahkan dari daerah lain melainkan untuk melaksanakan pembangunan guna peningkatan produksi Nasional. Dibangunnya proyek-proyek tersebut didaerah-daerah yang kebetulan kekurangan tenaga kerja bukanlah pertama-tama untuk memindahkan tenaga kerja melainkan karena tujuan yang hendak dicapai, yaitu peningkatan produksi Nasional dapat terwujud sebaikbaiknya dengan pembangunan didaerah-daerah tersebut.

KEBIDJAKSANAAN DAN LANGKAH-LANGKAH
Dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun transmigrasi dikaitkan dengan usaha-usaha serta kegiatan pembangunan dan tidak berdiri sendiri.Dengan demikian usaha transmi-
grasi adalah untuk menundjang kegiatan pembangunan didaerah- daerah dan projek-projek jang memerlukan tenaga kerja.
Dengan pendekatan kegiatan transmigrasi dari sudut pengaitan dengan usaha serta kegiatan pembangunan jang secara integral, maka kwantitas dan kwalitas transmigran akan sangat ditentukan oleh  kebutuhan usaha pembangunan diberbagai daerah tersebut. Berbagai kegiatan pembangunan-pembangunan jang memerlukan tenaga kerja antara lain adalah untuk peningkatan produksi pangan dengan pembukaan tanah baru yang terutama akan berbentuk pembukaan persawahan pasang-surut di Kalimantan dan Sumatera. Untuk peningkatan produksi dan ekspor kaju serta hasil hutan lainnya dimana akan dibangun proyek-proyek kehutanan diberbagai daerah diluar Djawa, diperlukan tenaga kerja transmigran baik jang sudah skilled maupun yang masih memerlukan latihan ketrampilan chusus dibidang produksi hutan. Selandjutnja untuk peningkatan produksi dan ekspor, dimana diperlukan rehabilitasi dari pembangunan prasarana diberbagai pulau diluar Djawa, diantaranya up-grading djalan, rehabilitasi pelabuhan, rehabilitasi lapangan terbang, pemasangan transmissi listrik dan lain sebagainya, diperlukan tenaga kerja jang tidak sedikit jumlahnya dan yang harus dipindahkan dari daerah jang berkelebihan tenaga  kerja. Demikian pula pengembangan usaha pertanian, perkebunan  dan perikanan memerlukan banjak sekali tenaga kerja. Dengan sendirinya tenaga kerja yang diperlukan untuk masing-masing bidang adalah berbeda-beda pensyaratannya. Bahkan untuk masing-masing  projek diperlukan tenaga kerja yang berbeda pula kecakapannya.  Oleh karena itu maka pengiriman transmigran untuk melaksanakan pembangunan dibidang-bidang serta proyek-proyek tersebut sudah seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan bidang-bidang serta proyek-proyek tersebut.
Dalam hubungan ini maka didaerah-daerah jang djumlah tenaga kerdjanja relatif banjak diadakan persiapan-persiapan agar supaja transmigran-transmigran jang akan membantu pembangunan projek-        projek didaerah lain tersebut benar-benar memenuhi pensjaratan jang diminta.Untuk ini diperlukan latihan ketrampilan yang akan mendjamin peningkatan produktivitas mereka ditempat pekerjaannya yang   baru. Dengan demikian usaha transmigrasi benar-benar merupakan     suatu kegiatan yang langsung menunjang pelaksanaan pembangunan   yang telah direncanakan diberbagai bidang.
Landasan baru dalam bidang transmigrasi ini akan terus dikembangkan berdasarkan pengalaman jang lampau serta kemungkinan yang akan datang. Sebagai akibat daripada luasnya persiapan-persiapan  dan kegiatan-kegiatan transmigrasi ini maka pembinaan operasionil  akan menjangkut kegiatan berbagai instansi dan masjarakat. Untuk  ini diperlukan persiapan-persiapan dan cara kerja yang serasi. Dengan demikian transmigrasi memegang peranan yang sangat penting sebagai  unsur penunjang pembangunan proyek-proyek jang telah diprioritaskan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun.
Salah satu tujuan pembangunan kawasan transmigrasi adalah membangun pusat-pusat pertumbuhan baru yang dilakukan para transmigran yang berada di permukiman transmigrasi tersebut. Para transmigran tersebut merupakan pionir-pionir pembangunan.
Pembangunan kawasan transmigrasi pada umumnya dilakukan di wilayah-wilayah yang jauh (remote area) dan dilakukan untuk dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan usaha pertanian di wilayah tersebut.
Dalam melakukan kegiatan usaha pertanian dan usaha-usaha produktif, di samping juga untuk kehidupan sehari-hari seperti untuk memasak, para transmigran memerlukan energi.
Menurut Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT), Depnakertrans, Djoko Sidiq Pramono, selama ini untuk memenuhi kebutuhan energi para transmigran dilakukan dengan memanfaatkan minyak tanah, kayu, dan sekam dari sisa panen hasil pertanian maupun dari generator.
“Pada umumnya kawasan transmigrasi itu belum terjangkau aliran listrik dari PLN. Sedangkan energi sangat dibutuhkan para transmigran. Kami kemudian melakukan solusi pemenuhan energi dengan memanfaatkan potensi lokal untuk sumber energi khususnya sumber-sumber energi terbarukan,” kata Djoko Sidiq Pramono.
Agar lebih hemat, efisien, dan ramah lingkungan, Ditjen P2MKT memanfaatkan potensi-potensi lokal untuk pembangkit energi. Seperti memanfaatkan aliran dan debit air untuk dapat memutar turbin sebagai pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).
Memanfaatkan tenaga angin, tenaga surya, memanfaatkan bahan bakar nabati, minyak sawit, jarak pagar, minyak kelapa, minyak jagung serta bahan bakar gas dari kotoran ternak.
Adanya pemenuhan energi terbarukan untuk kegiatan rumah tangga dan kegiatan usaha ekonomi produktif, kawasan trasnmigrasi tersebut dengan cepat dapat terdorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pembangunan dan pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi ini nantinya diharapkan akan mengurangi subsidi pemerintah untuk bahan bakar minyak. Di samping itu, wacana program desa mandiri energi (DME) bisa direalisasikan.
Pembangunan dan pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah dilakukan pada 1997 dengan bantuan Perancis di kawasan transmigrasi Hialu, Sulawesi Tenggara, Salotiwo/Kalumpang dan Salopangkang, Sulawesi Barat, serta Muara Ancalong, Kalimantan Timur.
Pada 2008, pembangunan PLTS dilakukan di kawasan transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mesuji, Lampung, jenis PJU, Hybrid 3000, SHS 200 dan SHS 50, KTM Belitang, Sumatera Selatan, jenis PJU, KTM Parit Rambutan, Sumatera Selatan jenis PJU, KTM Tobadak, Sulawesi Barat, jenis PJU, UPT Serai, Sulawesi Utara, jenis SHS 200.
Selain itu, PLTMH juga telah dibangun di kawasan transmigrasi Owata dan Sumalata, Gorontalo, Manilili, Sulawesi Selatan dan Tambua, Sulawesi Tenggara. Sementara lokasi transmigrasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga telah dibangun pembangkit tenaga angin (PLTAngin) di Oi Toi dan Piong.
“Kesadaran ikut menyelamatkan lingkungan dan program pembangunan dan pengembangan energi baru dan terbarukan di kawasan transmigrasi tersebut, Ditjen P2MKT, Depnakertrans akan bekerja sama dengan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Departemen ESDM, yang rencananya akan dilakukan akhir bulan Juni 2009

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r: :s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z:

Posting Komentar

OKe

no hal

Search